Jembatan Merah Putih Garuda Jembayan Diresmikan, Buka Akses bagi 100 KK Lebih
Peresmian Jembatan
Garuda Merah Putih di Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Lebih dari 100 Kepala Keluarga (KK) di RT 001 Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), kini memiliki akses baru setelah Jembatan Merah Putih Garuda diresmikan, pada Kamis (13/8/2026).
Jembatan ini
menggantikan akses lama berbahan kayu yang sebelumnya kurang memadai dan
menjadi jalur penting menuju kawasan di bagian dalam desa.
Peresmian turut
dihadiri Kapolres Kukar beserta jajaran, bersama unsur TNI, pemerintah desa,
dan masyarakat setempat.
Kehadiran jajaran
Forkopimcam dan masyarakat juga turut menandai dimulainya pemanfaatan jembatan
yang menjadi akses menuju kawasan di bagian dalam Desa Jembayan.
Komandan Kodim
(Dandim) 0906/Kukar, Letkol Arm Benny Budiman mengatakan, pembangunan jembatan
tersebut merupakan bagian dari program nasional Presiden Prabowo Subianto yang
dilaksanakan serentak di berbagai wilayah Indonesia.
Program Jembatan
Merah Putih Garuda merupakan pembangunan jembatan yang menyasar kebutuhan akses
masyarakat hingga tingkat desa.
Melalui program
tersebut, pemerintah menargetkan pembangunan 2.500 titik jembatan, bersamaan
dengan 3.000 titik sarana air bersih di berbagai daerah.
Bagi wilayah yang
memiliki jembatan rusak atau akses penghubung yang sulit dilalui, program
tersebut menjadi salah satu upaya untuk membuka kembali mobilitas masyarakat.
Pengajuan kebutuhan
pembangunan dapat berasal dari laporan masyarakat di tingkat desa, kemudian
diteruskan melalui jajaran kewilayahan TNI.
“Ini merupakan bukti
negara hadir pada masyarakat sampai dengan tingkat paling bawah, yaitu di
desa-desa. Hal ini dibuktikan dalam bentuk pembangunan-pembangunan
infrastruktur seperti jembatan yang saat ini kita hadiri,” ujarnya.
Di Jembayan,
pembangunan jembatan berawal dari kondisi jembatan lama yang sudah rusak.
Menurutnya, laporan
mengenai kebutuhan akses tersebut disampaikan pemerintah desa melalui Babinsa
dan Koramil sebelum diteruskan untuk diproses di tingkat pusat.
“Jembatan sebelumnya
itu rusak, terbuat dari kayu. Pada saat itu kepala desa melaporkan kepada
Babinsa, kemudian ke Koramil. Akhirnya kita input ke pusat dan alhamdulillah
Bapak Presiden melalui Bapak Kasad mendukung pembangunan Jembatan Merah Putih
Garuda,” ungkapnya.
Benny menilai
keberadaan jembatan memiliki dampak langsung terhadap aktivitas warga.
Kerusakan akses tidak
hanya menyulitkan perjalanan sehari-hari, tetapi juga dapat menghambat
kendaraan yang membawa material menuju kawasan yang berada di balik jembatan.
Karena itu,
pembangunan jembatan diarahkan untuk mengembalikan akses masyarakat yang
sebelumnya terganggu sekaligus mendukung aktivitas di wilayah pedesaan.
“Ini sebagai bentuk
konkret dari negara hadir, melihat tempat-tempat di desa yang kesulitan akses.
Sehingga harapannya dari situ mempermudah akses bagi warga masyarakat untuk
melalui jalan-jalan yang susah dilewati, terutama yang terputus akibat jembatan
rusak,” ucapnya.
Untuk wilayah Kodim
0906/Kukar, Benny menyebut kebutuhan pembangunan Jembatan Merah Putih Garuda
yang telah diproses mencapai 17 titik dengan enam jembatan di antaranya telah
terbangun pada tahap awal.
“Pada tahap awal saat
ini sudah terbangun ada enam jembatan yang tersebar di Sanga-Sanga, Muara Jawa,
kemudian sampai Beloro, Sebulu, juga di Sungai Payang,” ungkapnya.
Ia mengatakan proses
pengajuan pembangunan masih berjalan. Jika ditemukan kebutuhan baru, masyarakat
dapat menyampaikannya melalui pemerintah desa untuk kemudian diteruskan melalui
Babinsa dan Koramil.
Benny juga menyebut
pembangunan tidak hanya menyasar pembangunan jembatan, kebutuhan air bersih pun
menjadi bagian lain dari program nasional tersebut.
Di wilayah Kukar,
lanjutnya, pengajuan sarana air bersih telah disampaikan dari Kecamatan
Sanga-Sanga dan Muara Jawa, sedangkan Sungai Payang masih berada dalam tahap
pengajuan dan review.
“Semoga nanti ke
depan kalau misalnya ada masyarakat yang memang membutuhkan lagi, bisa
menyampaikan kepada pemerintah desa, kemudian bisa melalui Babinsa dan Koramil
untuk melaporkan apabila ada kendala-kendala terkait jembatan rusak, kemudian
kebutuhan sumur bor,” tuturnya.
Menurutnya, laporan
dari masyarakat akan menjadi dasar untuk melihat kebutuhan pembangunan
berikutnya.
Ia pun memastikan
proses tersebut masih dapat berjalan hingga akhir tahun.
“Terus berlanjut
sampai dengan akhir tahun, sesuai dengan laporan dari masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala
Desa Jembayan Erwin mengatakan pembangunan jembatan telah lama dinantikan
warga.
Antusiasme masyarakat
terlihat karena akses tersebut menjadi penghubung utama bagi warga RT 001
menuju kawasan di bagian dalam desa.
Jembatan itu juga
mengarah ke kawasan situs kerajaan Aji Pangeran Sinom Panji Mendapa atau biasa
dikenal dalam sejarah sebagai penguasa ke-8 Kutai Kartanegara yang memerintah
sekitar tahun 1635-1650 dan dikenal sebagai pemersatukan wilayah Kutai.
Keberadaan jembatan
tersebut diharapkan tidak hanya memudahkan mobilitas warga, tetapi juga
membantu aktivitas pembangunan dan pengembangan kawasan di bagian dalam.
Ia mengatakan
kendaraan yang membawa material sebelumnya kesulitan melintasi jembatan lama.
Kondisi tersebut
membuat akses menuju kawasan di bagian dalam desa menjadi terbatas.
Jembatan baru tersebut berukuran sekitar 4 meter x 4 meter dengan bentang sayap sekitar 15 meter dengan pembangunannya berlangsung kurang lebih tiga minggu.
“Jelas, masyarakat
sangat antusias dan sangat mendukung, mereka sudah menunggu kapan jembatan ini
diperbaiki. Berkat kolaborasi desa dan Babinsa yang mengusulkan, akhirnya
pembangunan ini bisa terlaksana. Jelas ini sangat-sangat bermanfaat bagi
warga,” pungkasnya. (Kriz)